Minggu, 29 Juni 2014

Perbedaan Komponen Proposal Ilmiah dan Non Ilmiah

Perbedaan Komponen Proposal Imliah dan Non Ilmiah

1.      Pengertian Karangan
Menurut Lamuddin Finozza karangan adalah hasil penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang suatu topik atau pokok bahasan. Setiap karangan yang ideal pada prinsipnya merupakan uraian yang lebih tinggi atau lebih luas dari alinea.
A.    Karangan Ilmiah
Karangan ilmiah merupakan karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Atau dapat dikatakan karangan ilmiah merupakan laporan tertulis yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang telah ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Karangan ilmiah memiliki ciri-ciri sehingga karangan tersebut dapat dikatakan sebagai suatu karangan ilmiah, adapun ciri-cirinya seperti berikut ini :
1)      Sistematis artinya suatu dalam menuliskan karangan ilmiah harus mengikuti suatu pola urutan tertentu.
2)      Objektif artinya penulisan karangan ilmiah harus sesuai dengan hasil yang diperoleh dari penelitian.
3)      Cermat, tepat, dan benar
4)      Tidak persuasive
5)      Tidak argumentif
6)      Tidak emotif
7)      Tidak mengejar keuntungan sendiri
8)      Tidak melebih-lebihkan sesuatu
Karangan ilmiah memiliki berbagai macam jenisnya. Berikut ini merupakan jenis karangan ilmiah:
1)      Makalah yaitu karya tulis yang menyajikan suatu masalah yang pembahasannya berdasarkan data dilapangan yang bersifat empiris-objektif
2)      Laporan penelitian yaitu suatu hasil atau kesimpulan yang diperoleh melalui suatu penelitian yang dituangkan kedalam suatu laporan.
3)      Kertas kerja yaitu makalah yang memiliki tingkat analisis lebih serius biasanya disajikan dalam lokakarya.
4)      Skripsi yaitu karya tulis ilmiah yang didasarkan atas suatu landasan teori untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada. Skripsi dibuat untuk mendapatkan gelar sarjana strata satu (s1)
5)      Tesis yaitu karya tulis ilmiah yang sifatnya lebih kompleks dari skripsi. Tesis dibuat untuk mendapatkan gelar sarjana strata 2 (master).
6)      Disertasi yaitu suatu karya tulis ilmiah yang dibuat untuk mengemukakan suatu dalil yang dapat dibuktikan berdasarkan data dan fakta dengan analisis yang lebih terinci. Disertasi dibuat untuk mendapatkan gelar sarjana strata 3 (doctor)

B.     Karangan Non Ilmiah
Karangan non illmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar. Bahasa dalam karangan non ilmiah menggunakan kata-kata yang bermakna konotasi dan figurative, menggunakan istilah-istilah umum yang dipahami semua kalangan dan menggunakan kalimat yang kurang efektif. Adapun cirri-ciri karangan non ilmiah yaitu :
1)      Ditulis berdasarkan fakta pribadi
2)      Fakta yang disimpulkan subjektif
3)      Gaya bahasa konotatif dan popular
4)      Tidak memuat hipotesis
5)      Penyajian dibarengi dengan sejarah
6)      Bersifat imajinatif
7)      Situasi didramatisir
8)      Bersifat persuasive
Karangan ilmiah memiliki berbagai macam jenisnya. Berikut ini merupakan jenis karangan ilmiah:
1)      Dongeng
2)      Cerpen
3)      Novel
4)      Roman
5)      Anekdot
6)      Hikayat
7)      Cerber
8)      Puisi
9)      Naskah drama

C.    Perbedaan Komponen Proposal Ilmiah dan Non Ilmiah
Proposal ilmiah dan non ilmiah memiliki perbedaan komponen-komponen didalam masing-masing karya tulis tersebut. Pada proposal formal terdiri atas tiga bagian utama, yaitu :

1)      Bagian pendahuluan
Bagian pendahuluan terdiri dari beberapa bagian yaitu sampul dan halaman judul, kata pengantar, ikhtisar, daftar isi, dan lembar pengesahan.
2)      Isi proposal
Isi proposal ilmiah terdiri dari beberapa bagian yaitu latar belakang, pembatasan masalah, tujuan, ruang lingkup, pemikiran dasar, metodologi, fasilitas, personalia, keuntungan dan kerugian, waktu, dan biaya.
3)      Bagian Pelengkap penutup
Bagian ini terdiri dari beberapa bagian yaitu daftar pustaka, lampiran, tabel dan sebagainya.
Sedangkan proposal non ilmiah komponennya merupakan variasi bentuk lain dari bentuk proposal formal karena tidak memenuhi syarat-syarat tertentu atau tidak selengkap seperti proposal bentuk formal.

D.    Contoh Proposal Ilmiah
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
            Internet seringkali disebut sebagai dunia tanpa batas. Beragam informasi bisa didapat di internet dan siapapun bisa mengakses informasi tersebut. Seiring perkembangan teknologi informasi, internet tak hanya memberikan kontribusi positif bagi kehidupan tetapi juga ancaman. Ancaman lebih menakutkan justru datang dari dunia maya, mulai dari serangan virus, Trojanm phishing hingga cracker yang biasa mengotak-atik keamanan sistem komputer.
            Terhubung ke internet ibaratnya membuka pintu komputer untuk bisa diakses oleh siapapun. Melalui pintu tersebutlah, anda dengan sangat mudah bisa menjelajahi belantaran dunia maya entah itu untuk berbelanja online, membaca berita terkini, mengirim e-mail dan lain sebagainya. Namun melalui pintu itulah, hacker bisa masuk dan dengan mudah menghancurkan bahkan mengambil alih kendali system komputer. Pada banyak kesempatan, kita perlu menentukan pilihan mana yang harus dipercaya dan mana yang tidak.
            Sekalipun sesuatu itu berasal dari sumber yang terpercaya dan aman untuk dijalankan. Bisa saja anda menerima e-mail dari sumber terpercaya yang di dalamnya disertakan sebuah link dan mengkliknya. Namun siapa sangka jika ternyata melalui link tersebut, hacker menyisipkan program jahat untuk memata-matai komputer tanpa sepengetahuan Anda. Untuk itulah, komputer membutuhkan suatu benteng yang mampu melindungi komputer dari ancaman berbahaya di internet. Pada dunia maya, benteng atau pelindung ini disebut dengan firewall.
            Keamanan komputer maupun jaringan komputer, terutama yang terhubung ke internet harus direncanakan dan dikoordinasikan dengan baik agar dapat melindungi sumber daya (resource) dan investasi di dalamnya,. Informasi (data) dan pelayanan sudah menjadi sebuah komoditi yang sangat penting. Kemampuan untuk mengakses dan menyediakan informasi secara cepat dan akurat menjadi sangat esensial bagi suatu organisasi, baik yang berupa organisasi komersia (perusahaan), perguruan tinggi, lembaga pemerintahan, maupun individual (pribadi).
1.2. Perumusan Masalah
            Perumusan masalah yang diambil yaitu, hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan untuk melakukan optimalisasi firewall pada jaringan skala luas ?
1.3. Tujuan Penelitian
            Berdasarkan dari latar belakang tujuan dari penelitian ini adalah agar dapat mengoptimalisasikan firewall pada jaringan sehingga dapat mengurangi ancaman-ancaman yang terdapat di dalam dunia internet dan kita menjadi merasa lebih nyaman dalam menjelajahi dunia internet.
1.4. Manfaat Penelitian
            Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat mengenai betapa pentingnya keamanan jaringan khususnya pada jaringan internet. Dan juga diharapkan agar masyarakat mengetahui macam-macam jaringan komputer, informasi mengenai firewall dan juga hal-hal apa saja yang perlu diketahui untuk optimalisasi firewall pada jaringan skala luas.


BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Jaringan komputer
Jaringan komputer merupakan sebuah kumpulan komputer, printer dan peralatan lainnya yang terhubung. Informasi dan data bergerak melalui kabel-kabel sehingga memungkinkan pengguna untuk melakukan pertukaran informasi berupa dokumen atau data mencetak dengan printer yang sama melalui beberapa komputer, menggunakan software yang saling terhubung. Terdapat 3 jenis jaringan komputer yaitu :
a.       Local Area Network (LAN)
LAN adalah merupakan suatu jaringan dengan area yang relative kecil. Lan biasanya hanya mencakup area 1 KM persegi. Contoh area sekolah.
b.      Metropolitan Area Network (MAN)
MAN biasanya meliputi area yang lebih besar dari LAN. MAN dapat mencakup area mencapai satu provinsi. Misalnya jaringan Bank dimana beberapa kantor cabang sebuah Bank di dalam satu kota dihubungkan antara cabang yang satu dengan yang lainnya.
c.       Wide Area Network (WAN)
WAN merupakan jaringan yang area sudah lebih besar dari MAN. WAN biasanya sudah menggunakan satelit ataupun kabel dibawah laut untuk menghubungkan jaringannya. Misal jaringan BANK BNI yang ada di Indonesia ataupun yang ada di Negara-negara lain.

2.2. Firewall
Firewall merupakan suatu cara/sistem/mekanisme yang diterapkan baik terhadap hardware, software ataupun sistem itu sendiri dengan tujuan untuk melindungi, bik dengan menyaring, membatasi atau bahkan menolak semua kegiatan pada jaringan pribadi dengan jaringan luar yang bukan merupakan ruang lingkupnya.
Firewall didefinisikan sebagai sebuah komponen atau kumpulan komponen yang membatasi akses antara sebuah jaringan yang diproteksi dan internet, atau antara kumpulan-kumpulan jaringan lainnya (Building Internet Firewalls, oleh Chapman dan Zwicky). Firewall mempunyai beberapa tugas :
a.       Pertama dan yang paling penting adalah : harus dapat mengimplementasikan kebijakan security di jaringan (site security policy).
b.      Melakukan filtering : mewajibkan semua trafik yang ada untuk melewati bagian firewall agar dapat diseleksi berdasarkan IP, nomor port, arahnya dan disesuarkan dengan kebijakan security.
Ada beberapa hal yang tidak dapat dilakukan oleh firewall :
a.    Firewall tidak bisa melindungi dari serangan orang dalam
b.    Firewall tidak bisa melindungi serangan yang tidak melalui firewall tersebut.
c.    Firewall tidak bisa melindungi jaringan internal terhadap serangan-serangan model baru.
d.    Firewall tidak bisa melindungi jaringan terhadap virus.

Karakteristik firewall yaitu :
a.    Seluruh kegiatan dari dalam ke luar harus melalui firewall. Hal ini dapat dilakukan dengan membatasi semua jaringan local kecuali melalui firewall.
b.    Hanya kegiatan yang terdaftar yang dapat melakukan hubungan, hal ini dilakukan dengan mengatur policy pada konfigurasi keamanan local.
c.    Firewall itu sendiri haruslah kebal atau kuat terhadap serangan.

Teknik yang digunakan firewall :
a.    Service control (kendali terhadap layanan)
Firewall akan memeriksa no IP addres dan nomor port yang digunakan baik pada protocol TCP dan UDP, bahkan bisa untuk proxy yang akan menerima dan menterjemahkan setiap permintaan sebelum mengijinkannya.
b.    Direction Control (kendali terhadap arah)
Berdasarkan arah dari berbagai permintaan terhadap layanan yang akan dikenali dan di ijinkan lewat firewall.
c.    User control (kendali terhadap pengguna)
Berdasarkan user untuk menjalankan layanan. Artinya ada user yang dapat menggunakan layanan ada juga yang tidak. Biasanya digunakan untuk membatasi user dari jaringan local untuk mengakses keluar.
d.    Behavior Control (kendali terhadap perlakuan)
Firewall dapat menyaring email untuk mencegah spam.

  
Tipe – tipe Firewall :
a.    Packet filtering Router
Packet ini diaplikasikan dengan cara mengatur semua packet IP baik menuju, melewati atau akan dituju oleh packet tersebut. Aturan penyaringan didasarkan pada header IP dan transport header, termasuk alamat awal IP dan alamat tujuan IP, protocol UDP dan TCP, serta nomor port. Kelebihan tipe ini mudah untuk diimplementasikan, transparan untuk pemakai dan relative cepat.
Sedangkan kelemahan tipe ini rumitnya menyetting paket yang akan difilter. Sementara serangan yang dapat terjadi pada tipe ini :
1.    IP addres spoofing : penyusup dari luar dapat masuk dengan menggunakan IP yang telah di izinkan melalui firewall.
2.    Source routing attacks : tidak menganalisa informasi routing sumber IP, sehingga mungkin untuk membypass firewall.
3.    Tiny Fragment attacks : membagi IP kedalam bagian lebih kecil dan memaksa terbaginya informasi TCP header. Serangan ini berharap firewall hanya memeriksa IP awalnya saja sehingga bagian IP yang lain dapat masuk.
b.    Application-Level Gateway
Tipe ini biasa juga dikenal proxy server yang berfungsi menyalurkan arus aplikasi. Cara kerjanya adalah apabila ada pengguna memakai aplikasi semisal ftp untuk masuk secara remote, maka gateway akan meminta memasukkan alam remote host yang akan diakses. Saat pengguna mengirimkan user ID maka gateway akan berhubungan dengan aplikasi remote host tersebut dan menyalurkan data antara kedua tiitik. Jika data tidak sesua maka firewall akan menolaknya. Kelebihan tipe ini relative lebih aman daripada tipe packet filtering router. Sedangkan kelemahan tipe ini tambahan berlebih di setiap hubungan.
c.    Circuit-Level Gateway
Tipe ini merupakan sistem yang berdiri sendiri. Dimana cara kerjanya  gateway mengatur kedua hubungan TCP, 1 antara dirinya dengan TCP pada pengguna local, sedangkan 1 lagi antara  dirinya dengan TCP pada pengguna luar. Saat terjadi 2 hubungan. Gateway akan menyalurkan TCP segment dari satu hubungan ke lainnya. Pengamanannya terletak pada hubungan mana yang di izinkan.

Merencanakan jaringan dengan firewall berkaitan erat dengan jenis fasilitas apa yang disediakan bagi para pemakai, umumya terdiri dari bagian filter dan bagian gateway.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Metodologi Penelitian
            Metodologi penelitian merupakan suatu proses berpikir yang sistematis yang terdiri atas tahap-tahap penelitian yang akan dilakukan. Metodologi penelitian yang digunakan dalam jurnal penelitan kali ini adalah dengan studi literatur dimana penjelasannya seperti berikut ini.
Melakukan identifikasi masalah dilakukan dengan cara mencari permasalahan yang dapat diselesaikan oleh penulis atau dengan arti lain dapat dilakukan analisis terhadap masalah yang pada proses optimalisasi firewall pada jaringan skala luas. studi literature dilakukan bersamaan dengan identifikasi masalah untuk menunjuang penelitian yang memberikan wawasan secara teoritis dan berperan dalam pengumpulan informasi secara lengkap dalam memecahkan permasalahan. Studi literature yang dilakukan ialah menggunakan referensi dari buku, jurnal ilmiah dan informasi penunjang materi yang dibahas pada pembuatan laporan jurnal ilmiah ini. Setelah proses identifikasi masalah selesai selanjutnya adalah proses implementasi yakni mencari jawaban atas masalah yang dibahas pada jurnal ini. Pada jurnal ini dibahas bagaimana langkah-langkah untuk optimalisasi firewall pada jaringan skala luas.
Referensi :




Senin, 30 Desember 2013

Karangan Induktif


Pentingnya Pemakaian Bahasa Indonesia Dalam Perkembangan IPTEK

Perkembangan pada bidang IPTEK ( Ilmu Pengetahuan & Teknologi ) berjalan dengan sangat pesat saat ini. Akan tetapi banyak orang Indonesia yang kurang memahami perkembangan teknologi dan komunikasi tersebut. Ini dikarenakan penggunaan bahasa pengantar pada buku – buku yang dipakai dalam memperkenalkan ilmu pengetahuan & teknologi banyak yang menggunakan bahasa inggris. Hal tersebut berbanding terbalik dengan perkembangan bahasa Indonesia yang tertinggal jauh dengan perkembangan budaya dari masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu, walaupun bahasa Indonesia sudah berperan sebagai alat persatuan tetapi belum dapat berperan sebagai pengantar ilmu pengetahuan.

Tentunya kita sebagai warga Negara Indonesia harus menyambut dengan antusias terhadap perkembangan teknologi. Dan juga kita harus benar – benar memahami konsep dan istilah baru dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena secara tidak langsung dengan memahami konsep dan istilah baru dalam perkembangan teknologi dapat memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Sehingga dapat dikatakan bahasa Indonesia memiliki peranan yang penting di dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.



Karangan Deduktif


Manfaat Teknologi

Ilmu pengetahuan sistem informasi sangat bergantung pada perkembangan teknologi, dimana perkembangan teknologi tersebut memiliki manfaat yang sangat banyak di berbagai bidang kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari – hari perkembangan teknologi memiliki manfaat yaitu contohnya pada bidang penerbangan, bidang perbankan dan bidang perdagangan. Didalam dunia penerbangan perkembangan teknologi dapat memiliki manfaat seperti mengatur jadwal penerbangan, mengatur perubahan jadwal penerbangan secara mendadak, mengatur sistem penjualan tiket dan reservasi penerbangan dan juga mengatur sistem komunikasi kepada pilot – pilot pesawat mengenai apa yang harus dilakukan. Sedangankan di dalam bidang perbankan perkembangan teknologi memiliki manfaat seperti mengatur pelayanan rekening kepada nasabah dan juga menyediakan mesin teller otomatis atau anjungan tunai mandiri. Sedangkan di dalam bidang perdagangan perkembangan teknologi memiliki manfaat seperti menyediakan sistem jaringan yang terkoneksi melalui alat bantu scanner dan juga menyediakan alat bantu konsumen untuk melakukan pengecekan harga.

Singkatnya perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat saat ini tentunya memiliki manfaat yang sangat banyak juga di dalam bidang pada kehidupan sehari – hari. Oleh sebab itu kita sebagai manusia yang membuat suatu teknologi harus memikirkan apakah teknologi yang kita buat tersebut memiliki manfaat yang baik atau tidak.


Minggu, 17 November 2013

Makalah Penggunaan EYD Dan Pemakaian Kalimat Efektif

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Bahasa adalah sistem lambing bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan  oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri , percakapan ( perkataan ) yang baik, tingkah laku yang baik dan sopan santun. Bahasa yang digunakan itu hendaklah bahasa yang baik sesuai dengan EYD sehingga penyampaian maksud dari kalimat tersebut dapat efektif.

EYD (Ejaan yang Disempurnakan) merupakan tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.

Pada kamus besar bahasa Indonesia kalimat memiliki arti sepatah kata atau sekelompok kata yang merupakan satuan yang mengutarakan suatu pikiran atau perasaan. Sedangkan efektif memiliki arti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya). Dapat membawa hasil (tentang usaha, tindakan). Dilihat dari pengertian kedua kalimat tersebut jadi dapat kita tarik kesimpulan kalimat efektif adalah suatu kata atau sekelompok kata yang dapat mengutarakan suatu pikiran atau perasaan , memiliki efek (akibat) dan juga dalam susunannya harus tepat dan benar.

Dalam karangan ilmiah kita sering menjumpai penulisan kata – kata yang tidak ilmiah. Hal ini sering kita jumpai mungkin karena dalam penulisannya tidak sesuai dengan EYD dan juga banyak kalimat yang bertele – tele. Dengan kenyataan inilah penulis tertarik untuk membahasa mengenai penggunaan EYD dan Kalimat Efektif dengan segala permasalahannya.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan EYD ?
2. Jelaskan mengenai sejarah penggunaan EYD ?
3. Jelaskan bagaimana cara penggunaan EYD ?
4. Apa yang dimaksud dengan Kalimat Efektif ?
5. Apa ciri – ciri Kalimat Efektif ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan bahasa Indonesia, sehingga penulisan menjadi baik dan benar.
2. Mengetahui apa dan bagaimana EYD dalam bahasa Indonesia.
3. Mengetahui apa dan bagaimana Kalimat Efektif dalam bahasa Indonesia.

BAB II
LANDASAN TEORI

Ejaan Van Ophuijsen Ejaan ini ditetapkan pada tahun 1901 yaitu ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Van Ophuijsen merancang ejaan itu yang dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Thaib Soetan Ibrahim.
Ejaan Soewandi Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini lebih dikenal dengan nama ejaan Republik.
Ejaan Melindo ( Melayu Indonesia ) Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.
Sedangkan berdasarkan sumber sumber yang didapat, teori - teori Kalimat Efektif sebagai berikut :
1. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu: 2007)
2. Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan: 2001)
3. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
4. Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi: 2009)

BAB III
PEMBAHASAN
A. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan yang disempurnakan (eyd) mulai digunakan sejak tahun 1972. Ejaan ini merupakan penyempurnaan dari ejaan yang digunakan sebelumnya seperti ejaan soewandi, ejaan van ophujisen dan lain lain. Pada tanggal 23 mei 1972 menteri pelajaran Malaysia (Tun Husein Onn) dan menteri pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia (Mashuri) menyepakati sebuah pernyataan yang isinya mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari dua Negara tersebut mengenai ejaan baru dan ejaan yang disempurnakan. Pada tanggal 16 agustus 1972, berdasarkan keputusan presiden no.57 tahun 1972, berlakulah sistem ejaan latin bagi bahasa melayu dan indonesi.
Ejaan-ejaan untuk bahasa Melayu/ Indonesia mengalami beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Ejaan Van Ophuijsen
2. Ejaan Soewandi
3. Ejaan Melindo ( Melayu Indonesia )
4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

1. Ejaan Van Ophuijsen
Ejaan ini ditetapkan pada tahun 1901 yaitu ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Van Ophuijsen merancang ejaan itu yang dibantu oleh Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Thaib Soetan Ibrahim. Ciri-ciri dari ejaan ini yaitu:
Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, pajah, sajang, dsb.
Huruf oe untuk menuliskan kata-kata goeroe, itoe, oemoer, dsb.
Tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dinamai’, dsb.

2. Ejaan Soewandi
Ejaan ini diresmikan pada tanggal 19 Maret 1947 menggantikan ejaan sebelumnya. Ejaan ini lebih dikenal dengan nama ejaan Republik.
Ciri-ciri ejaan ini yaitu:
Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata guru, itu, umur, dsb.
Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k pada kata-kata tak, pak, rakjat, dsb.
Kata ulang boleh ditulis dengan angka 2 seperti pada kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an.
Awalan di- dan kata depan di kedua-duanya ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya.

3. Ejaan Melindo ( Melayu Indonesia )
Konsep ejaan ini dikenal pada akhir tahun 1959. Karena perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya, diurungkanlah peresmian ejaan ini.

4. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Republik Indonesia. Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, Tahun 1972. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.
Perubahan:
Indonesia
(pra-1972) Malaysia
(pra-1972) Sejak 1972
Tj Ch C
Dj J J
Ch kh Kh
nj ny Ny
Sj sh Sy
j y Y
Oe* u U

Pengertian EYD
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) merupakan tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.
A. Penggunaan EYD yang benar pada penulisan huruf dan kata
Penggunaan Huruf Kapital
I. Jabatan tidak diikuti nama orang
II. Huruf pertama nama bangsa
III. Nama geografi sebagai nama jenis
IV. Setiap unsur bentuk ulang sempurna
V. Penulisan kata depan dan kata sambung
Penulisan Huruf Miring
I. Penulisan nama buku
Contoh: Buku Jurnalistik Indonesia, Majalah Sunda Mangle, Surat Kabar Bandung Pos.
II. Penulisan penegasan kata dan penulisan bahasa asing
Contoh: boat modeling, aeromodeling, motorsport.
III. Penulisan kata ilmiah
Contoh, royal-purple amethyst, crysacola, turqoisa, rhizopoda, lactobacillus, dsb.
Penulisan Kata Turunan
I. Gabungan kata dapat awalan akhiran
Butir 3 pedoman kata turunan menegaskan, jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai
II. Gabungan kata dalam kombinasi
Butir 4 pedoman penulisan kata turunan menyatakan, jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai
Penulisan Gabungan Kata
I. Penulisan gabungan kata istilah khusus
Butir 2 pedoman penulisan gabungan kata mengingatkan, gabungan kata, termasuk istilah khusus.
II. Penulisan gabungan kata serangkai
Butir 3 pedoman penulisan gabungan kata menegaskan, gabungan kata berikut harus ditulis serangkai.
B. Penggunaan EYD yang benar pada partikel, singkatan, akronim, dan angka.
1) PENULISAN PARTIKEL
I. Penulisan partikel pun
Butir 2 tentang penulisan partikel mengingatkan, partikel pun dituliskan terpisah dari kata yang mendahuluinya.
II. Penulisan partikel per
Butir 3 tentang penulisan partikel menyebutkan, pertikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap ditulis terpisah dari bagian kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
2) PENULISAN SINGKATAN
I. Penulisan singkatan umum tiga huruf
II. Penulisan singkatan mata uang
3) PENULISAN AKRONIM
I. Akronim nama diri
Pedoman EYD menyatakan, akronim nama diri yag berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
II. Akronim bukan nama diri
Menurut Pedoman EYD, akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
4) PENULISAN ANGKA
Pedoman EYD menetapkan empat jenis penulisan angka yaitu :
1. angka dipakai untuk menyatakan lambing bilangan atau nomor. Dalam tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
2. angka digunakan untuk menyatakan :
i. ukuran panjang, berat, luas, dan isi,
ii. satuan waktu,
iii. nilai uang, dan
iv. kuanitas.

3. angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, aparteman, atau kamar pada alamat.
4. angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
5) PENULISAN LAMBANG BILANGAN
1. Penulisan lambang bilangan satu-dua kata
Pedoman EYD menetapkan, penulisan lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
2. Penulisan lambang bilangan awal kalimat
Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
3. Penulisan lambang bilangan utuh
Angka yang menunjukan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca. Ketentuan dalam Pedoman EYD ini sangat sejalan dengan kaidah bahasa jurnalistik yang senantiasa menuntut kesederhanaan dan kemudahan.
4. Penulisan lambang bilangan angka-huruf
5. Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali didalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
C. Penggunaan Tanda Baca
1. Tanda Titik (. )
i. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
ii. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
iii. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan
2. Tanda Koma ( , )
i. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan.
ii. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapidan melainkan.
3. Tanda Titik Koma (; )
i. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian¬bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya: Malam makin larut; kami belum selesai juga.
ii. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Misalnya: Ayah mengurus tanaman di kebun; ibu sibuk bekerja di dapur; adik menghafalkan nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran pilihan pendengar.
4. Tanda Titik Dua ( : )
i. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian.
ii. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
5. Tanda Hubung ( – )
i. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
ii. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada
iii. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
6. Tanda Pisah ( – )
i. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat.
ii. Tanda pisah menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
7. Tanda Elipsis ( … )
i. Tanda elipsis menggambarkan kalimat yang terputus-putus.
ii. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya: Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.
8. Tanda Tanya ( ? )
i. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat Tanya
ii. Tanda tanya dipakai di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
9. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.
10. Tanda Kurung (   )
i. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
ii. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan.
iii. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
iv. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain.
v. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
11. Tanda Petik (“… “)
i. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
ii. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
12. Tanda Petik Tunggal ( ‘ … ‘ )
i. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain.
ii. Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing (Lihat pemakaian tanada kurung)
13. Tanda Ulang ( …2 ) (angka 2 biasa)
Tanda ulang dapat dipakai dalam tulisan cepat dan notula untuk menyatakan pengulangan kata dasar.
14. Tanda Garis Miring ( / )
i. Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.
ii. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat.
15. Tanda Penyingkat (Apostrof) ( ‘ )
Tanda apostrof menunjukkan penghilangan bagian kata.

D. Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur pinjamam dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas dua golongan besar. Pertama unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti shuttle cock, reshuffle. Unsur-unsur tersebut di pakai dalam konteks bahasa Indonesia tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur pinjaman yamg penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini diusahakan agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

B. KALIMAT EFEKTIF
Pada kamus besar bahasa Indonesia kalimat memiliki arti sepatah kata atau sekelompok kata yang merupakan satuan yang mengutarakan suatu pikiran atau perasaan. Sedangkan efektif memiliki arti ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya). Dapat membawa hasil (tentang usaha, tindakan). Dilihat dari pengertian kedua kalimat tersebut jadi dapat kita tarik kesimpulan kalimat efektif adalah suatu kata atau sekelompok kata yang dapat mengutarakan suatu pikiran atau perasaan , memiliki efek (akibat) dan juga dalam susunannya harus tepat dan benar. Berikut ini definisi kalimat efektif menurut para ahli :
5. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu: 2007)
6. Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan: 2001)
7. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah, ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
8. Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan Wahyudi: 2009)
Berdasarkan definisi kalimat efektif menurut para ahli dapat kita simpulkan bahwa suatu kalimat dapat dikatakan kalimat efektif apabila sesuai dengan kaidah bahasa, jelas dan mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca kalimat tersebut.
Ciri – Ciri Kalimat Efektif
Suatu kalimat dapat dikatakan kalimat efektif apabila kalimat tersebut sesuai dengan kaidah bahasa, jelas dan mudah dipahami. untuk mencapai keefektifan, suatu kalimat paling tidak harus memenuhi 6 syarat berikut ini :
1. Kesepadanan
Kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. melihat dari definisinya kesepadanan itu sangan penting dalam membuat suatu kalimat, misalkan kita memiliki pikiran atau gagasan yang baik tetapi struktur bahasa yang dipakai tidak beraturan tentunya gagasan yang kita miliki tersebut tidak dapat tersampaikan dengan baik. Berikut ini ciri – ciri kesepadanan kalimat :
A. Kalimat tersebut mempunyai subjek dan predikat yang jelas.
Untuk membuat kalimat mempunyai subjek dan predikat yang jelas dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya.
Contoh :
Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus mengisi krs tepat waktu. (salah)
Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus mengisi krs tepat waktu. (benar)

B. Tidak terdapat subjek ganda
Contoh :
Penyusunan makalah itu saya dibantu oleh dosen.(salah)
Dalam menyusun makalah itu, saya dibantu oleh para dosen.(benar)

C. Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal
Contoh :
Budi semalam tidak belajar. Sehingga budi tidak dapat mengerjakan soal ujiannya.(salah)
Budi semalam tidak belajar, sehingga budi tidak dapat mengerjakan soal ujiannya. (benar)

D. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang
Contoh :
Budi yang sedang membaca buku. (salah)
Budi sedang membaca buku. (benar)

2. Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat tersebut. Maksudnya, kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga harus menggunakan verba.

3. Ketegasan
Ketegasan pada suatu kalimat adalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Untuk membuat ide pokok kalimat tersebut lebih terlihat dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya :
A. Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat.
Contoh :
Dosen mengharapkan agar mahasiswa dapat mengumpulkan tugasnya dengan tepat waktu.
Penekanannya ialah dosen mengharapkan.
B. Membuat urutan kata yang bertahap.
Contoh :
Bukan seribu, sepuluh, seratus tetapi sejuta tiket yang sudah laku terjual.
Jika kalimat tersebut diurutkan secara bertahap maka akan tampak seperti ini
Bukan sepuluh, seratus, seribu tetapi sejuta tiket yang sudah laku terjual.
C. Melakukan pengulangan kata(repetisi)
Contoh:
Saya suka dengan kesopanannya, saya suka dengan sifatnya itu.
D. Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
E. Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab.

4. Kehematan
Kehematan pada kalimat efektif adalah hemat dalam menggunakan kata, frasa, dan bentuk lainnya yang dianggap tidak perlu di dalam suatu kalimat. Kehematan disini bukan berarti menghilangkan kata – kata yang dapat membantu memperkuat arti suatu kalimat. Maksud dari kehematan disini adalah penghematan terhadap suatu kata yang tidak diperlukan sejauh tidak melanggar tata bahasa. Untuk melakukan kehematan terhadap kalimat ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan :
A. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Contoh :
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ketempat itu
Kehematan dari kalimat itu adalah :
Karena tidak diundang, dia tidak datang ketempat itu.
B. Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata
Contoh :
Di mana kamu menabrak hewan kucing ini ?
Kata kucing pada kalimat tersebut sudah menjelaskan bahwa itu hewan, maka kehematan kalimat tersebut adalah :
Di mana kamu menabrak kucing ini ?
C. Penghimatan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Contoh :
Dia hanya membawa badannya saja.
Kehematan dari kalimat itu adalah
Dia hanya membawa badannya.
D. Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata – kata yang berbentuk jamak.
Contoh :
Bentuk tidak baku : para tamu – tamu , beberapa orang.
Kalimat efektifnya :
Bentuk jamak : para tamu, beberapa orang

5. Kecermatan
Yang dimaksud dengan kecermatan dalam kalimat adalah kalimat tersebut tidak memiliki makna ganda.
Contoh :
Sumbangan kedua sekolah itu telah kami terima.
Pada kalimat ini terdapat 2 makna yaitu :
a) Satu sekolah yang telah menyumbang dua kali. Dan
b) Terdapat 2 sekolah yang menyumbang.

6. Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah – pecah.
A. Kalimat yang padu itu tidak bertele – tele dan tidak mencermirkan cara berpikir yang tidak simestris, oleh karena itu hindari kalimat yang bertele – tele.
Contoh :
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu. (tidak efektif)
Kita harus mengembalikan kepribadian orang-orang kota yang sudah meninggalkan rasa kemanusiaan. (efektif)
B. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
Contoh :
Buku itu saya sudah kembalikan.
Kalimat efektifnya :
Buku itu sudah saya kembalikan.
C. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh :
Buku ini akan membahas tentang kalimat efektif dan EYD.
Kalimat efektifnya :
Buku ini akan membahas kalimat efektif dan EYD.

7. Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan adalah ide di dalam kalimat tersebut dapat diterima oleh akal dan penulisan kata – katanya harus sesuai dengan EYD.

DAFTAR PUSTAKA
Bahasa Indonesiasib. 2008. Sejarah Bahasa Indonesia menuju Ejaan Yang Disempurnakan. http://bahasaindonesiasib.wordpress.com/2008/09/12/sejarah-bahasa-indonesia-menuju-ejaan-yang-disempurnakan/.
Rakhmawati Lestari. 2013. Ejaan Yang Disempurnakan. http://tarirl.wordpress.com/2013/05/15/245/.
Ufima Elma. 2013. Makalah B.Indo Kalimat Efektif. http://kalimatefektif2013.blogspot.com/